Formalin atau Boraks yang Berbahaya ?

5 05 2011

Hmmm. . . sudah pasti semuanya tidak asing lagi dengan sebutan formalin ataupun boraks. Karena kedua bahan ini memang ngetren dimasyarakat sekeliling kita. Yapz. . . kedua bahan ini merupakan salah satu dari bahan-bahan kimia yang sering dipakai dikehidupan sehari-hari. Kedua bahan ini memang mudah untuk didapatkan. Karena boraks ataupun formalin dijual secara bebas dipasaran.
Namun demikian realita dimasyarakat mengenai pemakaian bahan tersebut, sudah benarkah ? amankah untuk kesehatan ? Baiklah di tulisan ini akan disajikan informasi lebih lanjut mengenai formalin dan juga borak. Simak baik-baik ya!

Apa itu Formalin & Boraks ?
Formalin adalah nama dagang formaldehida yang dilarutkan dalam air dengan kadar 36 – 40 %. Formalin biasa juga mengandung alkohol 10 – 15 % yang berfungsi sebagai stabilator supaya formaldehidnya tidak mengalami polimerisasi.
Boraks berasal dari bahasa Arab yaitu Bouraq. Merupakan kristal lunak yang mengandung unsur boron, berwarna dan mudah larut dalam air.
Boraks merupakan garam Natrium dengan nama kimia natrium tetrabonat (NaB4O7 10H2O) yang banyak digunakan dalam berbagai industri non pangan (bukan makanan) khususnya industri kertas, gelas, pengawet kayu, dan keramik. Serta Gelas pyrex yang terkenal kuat dibuat dengan campuran boraks.
Boraks dapat dijumpai dalam bentuk padat dan jika larut dalam air akan menjadi natrium hidroksida dan asam borat (H3BO3). Selain boraks yang lebih fenomenal dimasyarakat yaitu bleng. Bleng merupakan sebutan untuk salah satu zat berbahaya dengan nama ilmiah Natrium Biborat, Natrium Piroborat, Natrium Teraborat. Bleng adalah bentuk tidak murni dari boraks/asam borat murni yang biasa dibuat oleh industri farmasi.
Asam borat (H3BO3) merupakan asam organik lemah yang sering digunakan sebagai antiseptik, dan dapat dibuat dengan menambahkan asam sulfat (H2SO4) atau asam khlorida (HCl) pada boraks.
Asam borat juga sering digunakan dalam dunia pengobatan dan kosmetika. Misalnya, larutan asam borat dalam air (3%) digunakan sebagai obat cuci mata dan dikenal sebagai boorwater.
Asam borat juga digunakan sebagai obat kumur, semprot hidung, dan salep luka kecil. Namun, ingat, bahan ini tidak boleh diminum atau digunakan pada luka luas, karena beracun ketika terserap masuk dalam tubuh.

Contoh Makanan yang Banyak Menjadi Sasaran Penggunaan Formalin dan Boraks
Beberapa contoh makanan yang dalam pembuatannya sering menggunakan boraks dan formalin adalah untuk pembuatan gendar nasi, kerupuk gendar, atau kerupuk puli yang secara tradisional di Jawa disebut “Karak” atau “Lempeng”. Disamping itu boraks digunakan untuk industri makanan seperti dalam pembuatan mie basah, lontong, ketupat, bakso bahkan dalam pembuatan kecap.
Tujuan penambahan Bleng atau boraks dalam pembuatan makanan adalah sebagai berikut :
• karak/lèmpèng (kerupuk beras), sebagai komponen pembantu pembuatan gendar (adonan calon kerupuk)
• mi
• lontong, sebagai pengeras
• ketupat, sebagai pengeras
• bakso, sebagai pengawet dan pengeras
• kecap, sebagai pengawet
Kelainan yang Timbul Akibat Formalin maupun Boraks ?
Konsumsi Formalin pada makanan sangat berbahaya karena dapat menyebabkan keracunan pada tubuh manusia, dengan gejala :
1. sakit perut akut disertai muntah-muntah,
2. mencret berdarah,
3. depresi susunan syaraf dan
4. gangguan peredaran darah.
Mengkonsumsi boraks dalam makanan tidak serta merta berakibat buruk, tetapi sifatnya terakumulasi (tertimbun) sedikit-demi sedikit dalam organ hati, otak dan testis. Boraks tidak hanya diserap melalui pencernaan namun juga dapat diserap melalui kulit. Boraks yang terserap dalam tubuh dalam jumlah kecil akan dikelurkan melalui air kemih dan tinja, serta sangat sedikit melalui keringat. Boraks bukan hanya menganggu enzim-enzim metabolisme tetapi juga menganggu alat reproduksi pria.
Boraks yang dikonsumsi cukup tinggi dapat menyebabkan gejala pusing, muntah, mencret, kejang perut, kerusakan ginjal, hilang nafsu makan.

Tips Membedakan Bakso, Mie atau Kerupuk yang Menggunakan Formalin dan Boraks
Sebagai konsumen berarti kita harus lebihh teliti sebelum membeli, berikut tips yang mudah agar kita dapat mendeteksi makanan yang kita beli itu tidak mengandung boraks ;
Bakso Boraks. Sebagian bakso yang beredar di pasaran juga mengandung boraks. Tetapi kita bisa membedakan antara bakso yang mengandung boraks atau tidak.
Ciri-ciri bakso yang mengandung boraks lebih kenyal daripada bakso tanpa boraks. Ia juga tahan lama dan awet hingga beberapa hari. Warnanya juga lebih putih. Berbeda dengan bakso tanpa boraks yang berwarna abu-abu dan merata di semua bagian. Kalau masih ragu, coba lembar bakso ke lantai. Apabila memantul seperti bola bekel, berarti bakso itu mengandung boraks.
Ciri-ciri mie basah mengandung boraks: Teksturnya kenyal, lebih mengkilat, tidak lengket, dan tidak cepat putus.
Ciri-ciri jajanan (seperti lontong) mengandung boraks: teksturnya sangat kenyal, berasa tajam, seprti sangat gurih dan membuat lidah bergetar dan meberikan rasa getir.
Ciri-ciri kerupuk mengandung boraks: teksturnya renyah dan bisa menimbulkan rasa getir.
Pengganti formalin dan boraks (untuk makanan)
Sebagai pengganti zat formalin ataupun boraks dapat digunakan beberapa bahan sebagai berikut :
1. Bahan alami
Bahan alami yang bisa digunakan untuk menggantikan boraks maupun bleng dan memberikan efek sama (sebagai pengenyal maupun pengawet) adalah air abu. Untuk mendapatkan air abu, bakar merang (tangkai bulir padi) atau klaras (daun pisang kering) hingga menjadi abu, kemudian rendam 2-3 hari dengan air bersih. Ambil air rendamannya, manfaatkan sebagai pengenyal maupun pengawet alami. Bisa juga memanfaatkan air kapur sirih.

2. Bahan Kimia
Salah satu pengganti formalin, yaitu natrium benzoat. Adapun untuk mengganti boraks sebagai pengenyal dan pengawet makanan bisa digunakan kalsium klorida (CaCl).
Natrium benzoat populer digunakan pada minuman ringan dan sirup. Pada industri makanan, seperti tahu dan mi, zat kimia ini aman digunakan dalam takaran yang tidak berlebihan.
Natrium benzoat untuk pengawet makanan maksimal 1 gram per satu kilogram atau satu liter air. Jika berlebihan bisa mengundang alergi pada penderita asma dan menyebabkan hiperaktif pada anak yang mengonsumsi. Jika sesuai takaran tidak berefek.
Takaran dari kalsium klorida (CaCl) sebagai pengenyal dan pengawet makanan berkisar 1-5 gram per satu kilogram atau satu liter air. Tak ada efek samping, jika berlebihan terasa pahit.
Meski demikian, dorongan produsen makanan yang tetap menggunakan bahan boraks ataupun formalin adalah karena cara mendapatkan boraks dan formalin yang cenderung lebih mudah didapat serta harganya relative lebih murah.

Oke, sahabat pembaca, tujuan penulis membuat tulisan tentang formalin dan boraks ini bukan untuk memboikot agar tidak membeli makanan seperti lontong,mie, ketupat,gendar dkk yang disinyalir banyak menggunakan bahan tersebut. Karena tidak semua produsen menggunakan bahan tersebut, masih ada yang menggunakan bahan pengawet yang lebih aman.
Namun tulisan ini sebagai media bagi penulis berbagi informasi serta mengingatkan kita sebagai konsumenlah yang kudu dan harus lebih teliti dalam memilih makanan untuk kita konsumsi. Karena mau gak mau sangat mempengaruhi kesehatan.
Oke cuy. . . moga bermanfaat yah! See u next time
(Dari berbagai sumber)


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: